·
Pencarian naskah yang
kedua
Assalamualaikum Guys .
Kembali lagi dengan cerita saya selanjutnya
yang ditunggu-tunggu yaitu saya akan mencereritakan dan menunjukkan gambar
terkait naskah kuno. Jangan lupa baca dan resaoi yah guys, jangan Cuma membaca
tanpa kita memaknai apa makksudnya.
Baiklah guys , berhubung sebelumnya kami telah terlebih daulu pergi mencari
naskah itu dan mendapatkannya, kami pun pergi kembali ke tempat yang telah kami
datangi sebelumnya. Yaitu di Monjok dengan nama tokoh yaitu Pak Aseh, beliau
merupakan satu-satunya yang masih mempunyai naskah tersebut di desanya. Lalu
kami pun berangkat hari jumat sore setelah mengumpulkan tugas kuliah lainnya.
Hari itu kami ragu untuk pergi ke sana karena sebelumnya untuk bertemu beliau kami
sangatlah tidak enak telah merepotokan Beliau yang memang setiap harinya
berkerja di sawah,. kami
pun dengan berat hati untuk mengganggu dengan
menghampiri pak Aseh yang sedang bekerja di sawahnya. Jumat Sore pun tepatnya
tanggal 8 November kami pergi ke rumah pak Aseh dan alhasil kata anaknya beliau
suda pergi ke sawah dari tadi pagi. Kamipun tidak mudah menyerah untuk bertemu
beliau, kami memmutuskan untuk menemui beliau ke sawah. Ketika sore itu kami
melewati jalan yang sangat licin yaitu untuk menemui pak Aseh yang kebetulan
beliau sedang berada di sungai tepat samping sawahnya walaupun dengan susah
payah kami melewati jalan licin tersebut tapi kami tetap semanagat demi mencari
tahu lebih dalam lagi terkait naskah kuno.
Sebelumnya kami memang sempat menghubungi Pak Aseh
terlebih dahulu bahwa kami berniat akan ke
sana lagi dan meminta tolong untuk melanjutkan penjelasan terkat naskah kuno yang dibahas.
Setelah kami bertemu dengan beliau, kami
harus menunggu lagi lantaran beliau mengatakan belum bisa menunjukan nya saat
ini dikarenakan pekerjaannya disawah sangatlah banyak. Kamipun diminta untuk
menenmui beliau dilain hari dengan perjanjian pak Aseh akan mengabari kami
melalui nomor telepon saya. Setelah beberapa hari kemudian kami un di telepon
beliau, akan tetapi bukan mengabari untuk ke rumahnya melainkan beliau ingin
menunda dikarenakan ada urusan keluarga yang tidak bisa beliau tinggalkan.
Keesokann harinya saya diberitahu lagi oleh beliau dannn temann-teman beliau
menunda lagi dikarenakan beliau mendapatkan musibah yaitu salah keluarganya
kecelakaan parah, kamipun harus memaklmumi hal tersebut. Keesekoan harinya saya
pun menelpon beliau untuk meminta kabar darinya dan Alhamdulillah kamipun
disuruh pergi menemui beliau pada malam tanggal 14 November tepatnya pukul
20.20. kami sangat senag karena akhirnya belaiu mempunyai waktu untuk itu
sekarang.
Kamipun sampai di rumah beliau pukul 20.40,
Tidak lama kami menunggu di luar, akhirnya kami memutuskan untuk
masuk dan mengucapkan salam, kami yang sudah dikenal oleh istri beliau disambut sangat ramaah oleh
istrinya. Semabri menunggu pak Aseh yang sholat kamipun dusuk di berugak depan
rumah beliau dengan 3 cangkir teh yang disuguhkan oleh istri beliau . tidak lama
menunngu datanglah beliau dengan memakai baju kokoh lengkap dengan peci ,
kamipun segera bersalamn dengan beliau. Sebelum beliau membuka dan mebaca serta
memperlihatkan isi naskah kuno kepada kami beliaupun membicarakan terkait
sekilas terkait naskah kuno atau yang sering disebit beliau dengan naskah Paras
Nabi.beliau mengatakan bahwa naskah peninggalan keluarganya tersebut merupakan
naskah yang sudah lama sekali dipegang oleh keluarganya bahkan sebelum bapak
beliau terlahir disunia katanya. Beliaupun segera mebacakan isi naskah kuno
tersebut akan tetapi beliau mebacakan satu bagian lempir saja dan tidak membaca
semuanya.
Di sini kami tidak melakukan ritual khusus untuk membuka naskah
tersebut, sang pemilik naskah hanya membuka dengan melafazkan al basmalah saja.
Ok
guys, selanjutnya Kami
mendapatkan naskah kuno atau lontar dengan judul Paras Nabi (Nabi bercukur), saya akan menceritakan secara jelasnya yah.
naskah tersebut sudah ada sejak dahulu dan konon katanya di desa
tersebut sebelumnya mempunyai banyak tokoh yang dapat membaca dan mengartikan
lontar, bahkan bukan hanya dapat mengartikan namun juga dapat menulis. Namun
saat ini kami sudah kekurangan orang-orang yang mau belajr tentang hal seperti
ini pungka Pak Aseh. naskah tersebut didahului oleh lafal basmalah kemudian
naskah tersebut menceritakan tentang bagaimana proses Nabi bercukur pada zaman
dahulu. Bercukur di sini mksudnya adalah memotong rambut, jadi naskah tersebut
menceritakan proses pemotongan rambut yang dilakukan oleh kanjeng Nabi besar
Muhammad Saw. Konon naskah tersebut menceritakan tentang Nabi yang memotong
rambut dan tidak sampai jatuh ke bumi. Pemotongan rambut yang dilakukan oleh
Nabi agar terhindar dari penyakit. Dan pencukuran tersebut dilakukan atas
perintah Allah secara langsung sehingga Nabi melakukan pencukuran rambut
tersebut. Konon pencukuran rambut Nabi tidak diketahui oleh siapapun selain
Allah dan penghuni langit. Lontar tersebut digunakan pada saat pencukuran
rambut anak kecil atau ngurisan. Pada saat akan dilakukan proses ngurisan,
terlebih dahulu ketua adat atau sesepu-sesepuh di sana akan membacakan lontar
itu terlebih dahulu, karena dalam lontar tersebut sebenarnya mempunyai banyak
sekali pengajaran yang dapat diambil untuk kehidupan. Kemudian lontar tersebut
dipercaya mempunyai kekuatan gaib, yaitu orang-orang yang senantiasa
melakukannya atau membudidayakan hal itu
dipercaya dapat menolak bala hingga beberapa kebaikan semasa hidup
sampai dengan di dalam kuburnya.
Konon
naskah tersebut bukan hanya ditulis oleh satu orang saja, dan naskah tersebut mempunyai
banyak sekali bahasa, naskah tersebut merupakan salah satu warisan yang
ditinggalkan oleh pendahulu dan masih dimiliki oleh Pak Asih.
Gambar naskah paras nabi
“Bismillahirrohmanirrohim
Dini kaule hanurun, ceritene Nabi Haparas. Dini wang hangapus ringgite, cerite
handike nabi, pakse langkunging sang kakot moge dohing tulak sari pinatut basa
Jawi, kayat pamulane dangu, mangke kedah ngong wikan, dadi penglipuring
brangti, singamaca moga doh bale hing dunia”
Artinya: “Dengan nama Allah yang Maha pemurah lagi Maha penyayang
saya menurunkan, cerita nabi bercukur. Karena aku mengganti hurufnya, cerita
baginda Nabi, maksud para ahlinya, semoga dijauhkan dari bala, menggunakan
bahasa jawa, pada awalnya hurufnya Arab, karena saya ingin mengetahui, menjadi
pelepas lara, barang siapa yang membaca, mudah-mudahan dijauhkan dari bala bala
di dunia”.
b.
Maksud
ari lempir di atas adalah naskah tersebut digunakan untuk melepas susah hati
dari pemikiran tentang dunia dan akhirat. Sehingga sebisa mungkin naskah tersebut
diartikan dengan mengganti hurufnya agar naskah tersebut dapat dibaca dan
diteladani oleh umat Nabi Muhammad agar dijauhkan dari bala dunia. Kemudian
maksud penulis tersebut tentu untuk menurunkan cerita tersebut agar dapat
dijadikan pembelajaran oleh generasi selanjutnya, karena di dalam naskah
tersebut terdapat banyak sekali kebaikan untuk umat Nabi Muhammad.
c.
Hubungan
naskah tersebut dengan kehidupan secara personal dan sosial
Dari naskah tersebut kita sebagai manusia dapat mengambil banyak
pembelajran terutama bagi diri sendiri. tentu hal yang paling utama adalah
perintah Allah harus ditaati bagaimanapun dan dengan cara apapun. Hal itu pula
yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Melakukan pencukuran atas perintah Allah
SWT. Kemudian bagaimana seharusnya
manusia menyembah Allah dan meyakini Rasullnya serta tidak menyekutukan Allah.
Kemudian naskah tersebut berhubungan dengan iman yang dimiliki oleh
seseorang, yaitu sebagaimana iman Nabi tentang perintah Allah SWT.
1.
Penutup
a.
Kesimpulan
Untuk medapatkan naskah tersebut tentu tidak mudah, kami harus
melaalui beberapa hal hiangga harus bolak-balik untuk mendapatkan arti dan
makna naskah tersebut. Slain itu tokoh naskah
atau yang mempunyai naskah tersebut juga tidak bisa membaca sehingga perjalanan
untuk mendapatkan naskah tersebut terasa lebih berat dari yang kami pikirkan.
Naskah tersebut sudah ada sejak zaman dahulu yang dilestarikan
seacara turun temurun. Naskah tersebut ditulis oleh orang yang berbeda-beda
sehingga tulisan yang ada dalam naskah tersebut juga berbeda-beda, yang
kemudian ada juga yang menyalin naskah tersebut ke dalam bahasa yang lebih
mudah dipahami agar penerus tidak terlalu sulit jika ingin membaca dan
mengamalkannya. Kemudian naskah tersebut berisi tentang paras Nabi atau Nabi bercukur
dimana naksah tersebut menceritakan tentang proses-proses yang dilalui oleh
Nabi ketika bercukur. Dalam naskah kuno tersebut tentu memiliki banyak sekali
pengajaran tentang kehidupan yang dapat diteladani baik secara individual
maupun sosial. Namun sayangnya naskah kuno tersebut saat ini sudah tidak
terlalu banyak digunakan karena tokoh-tokoh yang bisa membaca dan
menembangkannya sudah mulai berkurang bahkan sudah akan hilang. Padahal kampung
tersebut dulunya mempunyai banyak sekali tokoh-tokoh atau sesepuh yang mahir
membaca bahkan menuliskannya.
b.
Saran
Bagi pembaca semoga dapat dijadikan pembelajaran, dan dapat
melestarikan budaya dengan menghormati budaya yang kita miliki. Salah satu
caranya dengan mencari tahu dan mendalami budaya yang ada apalagi jika kita
mempunyai naskah kuno seperti ini seharusnya sebagai generasi muda harus dapat
mempelajari dan mengetahui isi dari naskah tersebut agar kita dapat menjadi
penerus dan untuk menghindari punahnya asal muasal budaya yang kita miliki..
Untuk penulis tentunya menjadi lebih menghargai budaya yang
dimiliki, dan mau mempelajari budaya tersebut untuk dapat menjadi penerus
generasi yang tetap melestarikan budaya di daerah sendiri. Dan jika terdapat
kesalahan dalam pembuatan makalah ini mohon dimaklumi dan penulis secara
personal memohon maaf kepada semua khalayak jika merasa dirugikan atau
semcamnya atas pembuatan makalah ini. manusia tempat khilaf dan salah, oleh
karenanya penulis mengharapkan pengkritikan dan penambahan materi bila
diperlukkan.
lampiran
gambar kocor + naskah kuno



