Kamis, 14 November 2019

menjelajahi makna dibalik sebuah naskah kuno



·         Pencarian naskah yang kedua
Assalamualaikum Guys .
Kembali lagi dengan cerita saya selanjutnya yang ditunggu-tunggu yaitu saya akan mencereritakan dan menunjukkan gambar terkait naskah kuno. Jangan lupa baca dan resaoi yah guys, jangan Cuma membaca tanpa kita memaknai apa makksudnya.
Baiklah guys , berhubung sebelumnya kami telah terlebih daulu pergi mencari naskah itu dan mendapatkannya, kami pun pergi kembali ke tempat yang telah kami datangi sebelumnya. Yaitu di Monjok dengan nama tokoh yaitu Pak Aseh, beliau merupakan satu-satunya yang masih mempunyai naskah tersebut di desanya. Lalu kami pun berangkat hari jumat sore setelah mengumpulkan tugas kuliah lainnya. Hari itu kami ragu untuk pergi ke sana karena sebelumnya untuk bertemu beliau  kami sangatlah tidak enak telah merepotokan Beliau yang memang setiap harinya berkerja di sawah,. kami pun dengan berat hati untuk mengganggu dengan menghampiri pak Aseh yang sedang bekerja di sawahnya. Jumat Sore pun tepatnya tanggal 8 November kami pergi ke rumah pak Aseh dan alhasil kata anaknya beliau suda pergi ke sawah dari tadi pagi. Kamipun tidak mudah menyerah untuk bertemu beliau, kami memmutuskan untuk menemui beliau ke sawah. Ketika sore itu kami melewati jalan yang sangat licin yaitu untuk menemui pak Aseh yang kebetulan beliau sedang berada di sungai tepat samping sawahnya walaupun dengan susah payah kami melewati jalan licin tersebut tapi kami tetap semanagat demi mencari tahu lebih dalam lagi terkait naskah kuno. Sebelumnya kami memang sempat menghubungi Pak Aseh terlebih dahulu bahwa kami berniat akan ke  sana lagi dan meminta tolong untuk melanjutkan penjelasan terkat naskah kuno yang dibahas.
Setelah kami bertemu dengan beliau, kami harus menunggu lagi lantaran beliau mengatakan belum bisa menunjukan nya saat ini dikarenakan pekerjaannya disawah sangatlah banyak. Kamipun diminta untuk menenmui beliau dilain hari dengan perjanjian pak Aseh akan mengabari kami melalui nomor telepon saya. Setelah beberapa hari kemudian kami un di telepon beliau, akan tetapi bukan mengabari untuk ke rumahnya melainkan beliau ingin menunda dikarenakan ada urusan keluarga yang tidak bisa beliau tinggalkan. Keesokann harinya saya diberitahu lagi oleh beliau dannn temann-teman beliau menunda lagi dikarenakan beliau mendapatkan musibah yaitu salah keluarganya kecelakaan parah, kamipun harus memaklmumi hal tersebut. Keesekoan harinya saya pun menelpon beliau untuk meminta kabar darinya dan Alhamdulillah kamipun disuruh pergi menemui beliau pada malam tanggal 14 November tepatnya pukul 20.20. kami sangat senag karena akhirnya belaiu mempunyai waktu untuk itu sekarang.
Kamipun sampai di rumah beliau pukul 20.40, Tidak lama kami menunggu di luar, akhirnya kami memutuskan untuk masuk dan mengucapkan salam, kami yang sudah dikenal oleh istri beliau disambut sangat ramaah oleh istrinya. Semabri menunggu pak Aseh yang sholat kamipun dusuk di berugak depan rumah beliau dengan 3 cangkir teh yang disuguhkan oleh istri beliau . tidak lama menunngu datanglah beliau dengan memakai baju kokoh lengkap dengan peci , kamipun segera bersalamn dengan beliau. Sebelum beliau membuka dan mebaca serta memperlihatkan isi naskah kuno kepada kami beliaupun membicarakan terkait sekilas terkait naskah kuno atau yang sering disebit beliau dengan naskah Paras Nabi.beliau mengatakan bahwa naskah peninggalan keluarganya tersebut merupakan naskah yang sudah lama sekali dipegang oleh keluarganya bahkan sebelum bapak beliau terlahir disunia katanya. Beliaupun segera mebacakan isi naskah kuno tersebut akan tetapi beliau mebacakan satu bagian lempir saja dan tidak membaca semuanya.
Di sini kami tidak melakukan ritual khusus untuk membuka naskah tersebut, sang pemilik naskah hanya membuka dengan melafazkan al basmalah saja.



Ok guys, selanjutnya Kami mendapatkan naskah kuno atau lontar dengan judul Paras Nabi (Nabi bercukur), saya akan menceritakan secara jelasnya yah. naskah tersebut sudah ada sejak dahulu dan konon katanya di desa tersebut sebelumnya mempunyai banyak tokoh yang dapat membaca dan mengartikan lontar, bahkan bukan hanya dapat mengartikan namun juga dapat menulis. Namun saat ini kami sudah kekurangan orang-orang yang mau belajr tentang hal seperti ini pungka Pak Aseh. naskah tersebut didahului oleh lafal basmalah kemudian naskah tersebut menceritakan tentang bagaimana proses Nabi bercukur pada zaman dahulu. Bercukur di sini mksudnya adalah memotong rambut, jadi naskah tersebut menceritakan proses pemotongan rambut yang dilakukan oleh kanjeng Nabi besar Muhammad Saw. Konon naskah tersebut menceritakan tentang Nabi yang memotong rambut dan tidak sampai jatuh ke bumi. Pemotongan rambut yang dilakukan oleh Nabi agar terhindar dari penyakit. Dan pencukuran tersebut dilakukan atas perintah Allah secara langsung sehingga Nabi melakukan pencukuran rambut tersebut. Konon pencukuran rambut Nabi tidak diketahui oleh siapapun selain Allah dan penghuni langit. Lontar tersebut digunakan pada saat pencukuran rambut anak kecil atau ngurisan. Pada saat akan dilakukan proses ngurisan, terlebih dahulu ketua adat atau sesepu-sesepuh di sana akan membacakan lontar itu terlebih dahulu, karena dalam lontar tersebut sebenarnya mempunyai banyak sekali pengajaran yang dapat diambil untuk kehidupan. Kemudian lontar tersebut dipercaya mempunyai kekuatan gaib, yaitu orang-orang yang senantiasa melakukannya atau membudidayakan hal itu  dipercaya dapat menolak bala hingga beberapa kebaikan semasa hidup sampai dengan di dalam kuburnya.
Konon naskah tersebut bukan hanya ditulis oleh satu orang saja, dan naskah tersebut mempunyai banyak sekali bahasa, naskah tersebut merupakan salah satu warisan yang ditinggalkan oleh pendahulu dan masih dimiliki oleh Pak Asih.


                        Gambar naskah paras nabi

    “Bismillahirrohmanirrohim Dini kaule hanurun, ceritene Nabi Haparas. Dini wang hangapus ringgite, cerite handike nabi, pakse langkunging sang kakot moge dohing tulak sari pinatut basa Jawi, kayat pamulane dangu, mangke kedah ngong wikan, dadi penglipuring brangti, singamaca moga doh bale hing dunia”
Artinya: “Dengan nama Allah yang Maha pemurah lagi Maha penyayang saya menurunkan, cerita nabi bercukur. Karena aku mengganti hurufnya, cerita baginda Nabi, maksud para ahlinya, semoga dijauhkan dari bala, menggunakan bahasa jawa, pada awalnya hurufnya Arab, karena saya ingin mengetahui, menjadi pelepas lara, barang siapa yang membaca, mudah-mudahan dijauhkan dari bala bala di dunia”.

b.      Maksud ari lempir di atas adalah naskah tersebut digunakan untuk melepas susah hati dari pemikiran tentang dunia dan akhirat. Sehingga sebisa mungkin naskah tersebut diartikan dengan mengganti hurufnya agar naskah tersebut dapat dibaca dan diteladani oleh umat Nabi Muhammad agar dijauhkan dari bala dunia. Kemudian maksud penulis tersebut tentu untuk menurunkan cerita tersebut agar dapat dijadikan pembelajaran oleh generasi selanjutnya, karena di dalam naskah tersebut terdapat banyak sekali kebaikan untuk umat Nabi Muhammad.
c.       Hubungan naskah tersebut dengan kehidupan secara personal dan sosial
Dari naskah tersebut kita sebagai manusia dapat mengambil banyak pembelajran terutama bagi diri sendiri. tentu hal yang paling utama adalah perintah Allah harus ditaati bagaimanapun dan dengan cara apapun. Hal itu pula yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Melakukan pencukuran atas perintah Allah SWT. Kemudian bagaimana  seharusnya manusia menyembah Allah dan meyakini Rasullnya serta tidak menyekutukan Allah.
Kemudian naskah tersebut berhubungan dengan iman yang dimiliki oleh seseorang, yaitu sebagaimana iman Nabi tentang perintah Allah SWT.
1.      Penutup
a.       Kesimpulan
Untuk medapatkan naskah tersebut tentu tidak mudah, kami harus melaalui beberapa hal hiangga harus bolak-balik untuk mendapatkan arti dan makna naskah tersebut. Slain itu tokoh naskah atau yang mempunyai naskah tersebut juga tidak bisa membaca sehingga perjalanan untuk mendapatkan naskah tersebut terasa lebih berat dari yang kami pikirkan.
Naskah tersebut sudah ada sejak zaman dahulu yang dilestarikan seacara turun temurun. Naskah tersebut ditulis oleh orang yang berbeda-beda sehingga tulisan yang ada dalam naskah tersebut juga berbeda-beda, yang kemudian ada juga yang menyalin naskah tersebut ke dalam bahasa yang lebih mudah dipahami agar penerus tidak terlalu sulit jika ingin membaca dan mengamalkannya. Kemudian naskah tersebut berisi tentang paras Nabi atau Nabi bercukur dimana naksah tersebut menceritakan tentang proses-proses yang dilalui oleh Nabi ketika bercukur. Dalam naskah kuno tersebut tentu memiliki banyak sekali pengajaran tentang kehidupan yang dapat diteladani baik secara individual maupun sosial. Namun sayangnya naskah kuno tersebut saat ini sudah tidak terlalu banyak digunakan karena tokoh-tokoh yang bisa membaca dan menembangkannya sudah mulai berkurang bahkan sudah akan hilang. Padahal kampung tersebut dulunya mempunyai banyak sekali tokoh-tokoh atau sesepuh yang mahir membaca bahkan menuliskannya.
b.      Saran
Bagi pembaca semoga dapat dijadikan pembelajaran, dan dapat melestarikan budaya dengan menghormati budaya yang kita miliki. Salah satu caranya dengan mencari tahu dan mendalami budaya yang ada apalagi jika kita mempunyai naskah kuno seperti ini seharusnya sebagai generasi muda harus dapat mempelajari dan mengetahui isi dari naskah tersebut agar kita dapat menjadi penerus dan untuk menghindari punahnya asal muasal budaya yang kita miliki..
Untuk penulis tentunya menjadi lebih menghargai budaya yang dimiliki, dan mau mempelajari budaya tersebut untuk dapat menjadi penerus generasi yang tetap melestarikan budaya di daerah sendiri. Dan jika terdapat kesalahan dalam pembuatan makalah ini mohon dimaklumi dan penulis secara personal memohon maaf kepada semua khalayak jika merasa dirugikan atau semcamnya atas pembuatan makalah ini. manusia tempat khilaf dan salah, oleh karenanya penulis mengharapkan pengkritikan dan penambahan materi bila diperlukkan.


lampiran 
gambar kocor + naskah kuno